Kamis, 29 September 2011

Pembelajaran Matematika Berbantuan Kalkulator: Studi Kasus Penggunaan Kalkulator Texas Instrument TI 89 pada PBM Matematika di SMK MUHAMMADIYAH IV YOGYAKARTA

By: Dr. Marsigit, M.A
Reviewed by: Lina Dwi Aris S (09301241031, http://linadwiarissetiani.blogspot.com/)         
In developed countries calculator found key position in the process of learning mathematics. In this case, shown with employing of calculator in learning mathematics begin at primary school until college. The study is a process is complex occur in everyone in their live. The process of study occur because there is interactions between the teacher and his environment. In give a service to the student, the teacher can not getting loose from their method of learning. There is some learning method can be choosen by the teacher that is discussion methode. Through discussion method appear interaction between student and teacher and interaction between student and student. While, calculator can be employed as a instrument in learning mathematics. The benefit can be expolred from employing ofs calculator in strategy of learning mathematics contemporary, that is: help in comprehend the concepts of mathemaics, to help strenghtened the skill of computation, to develop the skill of thinking high level, to increase the skill of problem solving, and make a problem solving more realistic. Shown its utilization calculator consist of two type, that is common calculator and scientific calculator. One of the scientific calculator is graph calculator. Merriweather and thrap (1999) explain that employing the graph calculator in the class can causing the student be influence and take a part in mathematics, and can finishing the problem mathematics which the problem can not finish in that time.
The porpose of the study conducted by researchers at SMK Muhammadiyah Yogyakarta IV is to identify the employing of graphics calculator in learning mathematics and to study the response of students to use graphics calculators in mathematics learning process. Based on the results of research conducted by the researchers, there are five stages of the use of calculators as a learning tool in mathematics at SMK Muhammadiyah Yogyakarta IV, the first stage is the stage of understanding about the importance graphics calculator, the second stage is the stage of understanding the theory and employe of graphics calculators in solving problems equations and inequalities, the third stage is the stage of entering data into the calculator about the process of moving the language into the language of mathematics in terms of graphics calculators, the fourth stage is the stage interpretation of the graphics calculator screen, and stage five is the stage of drawing conclusions.

PEMANFAATAN VIDEO TAPE RECORDER (VTR) UNTUK PEGEMBANGAN MATEMATIKA REALISTIK DI SMP


By: Dr. Marsigit, M.A
Reviewed by: Lina Dwi Aris S (09301241031, http://linadwiarissetiani.blogspot.com/)
As we have known, the mathematical realistic emphasizing to construction of the context of concrete objects as a starting point for the students to get mathematical concepts. Concrete objects and environment objects can be employed as a context for learning mathematics to making connections with social interaction. The teacher’s effort to get ideas about concrete objects and environment objects can be executed using VTR. Through the VTR is the teachers will be able to learn how to:
1.      Make the preparation of the process teaching learning mathematics (PBM) in junior high school appropriate with the principles of PMRI.
2.      Develop the sources of study to process of teaching learning of mathematics in junior high school appropriate with the principle of PMRI.
3.      Develop the assesment activities to process of learning mathematics (PBM) in junior high school appropriate with the principles of PMRI.
4.      Implement the process of teaching learning of mathematics (PBM) in junior high school appropriate with the principles of  PMRI.
A model of learning mathematics that has been recorded in the VTR certainly has its advantages and has its disadvantages. So the teachers can discuss it to get the new knowledge by comparing with his experiences. As follows some weakness of VTR, that is the limited point of view, not all aspects can be recorded, image quality, the moment of image capture that are not appropriate. Additionally, employe the VTR in the learning mathematics with a realistic approach can provide the following benefits, that is:
1.      The teachers have a opportunity to test the concrete objects and enviorenment objects can be employed as a context for learning mathematics in building mathematical connections trough social interaction.
2.      The teachers have a opportunity to explore and reflect in learning math concepts realistic.
3.      The teachers have a opportunity to exchange experiences with other teachers about the development of realistic mathematical learning.
4.      The teachers have a opportunity to reflect on the preparation of teaching and learning process mathematics (PBM) in junior high school appropriate with the principles PMRI.
5.      The teachers have a opportunity to reflect on the development of learning resources for teaching and learning mathematics process (PBM) in junior high school appropriate with the principles of PMRI.
6.      The teachers have a opportunity to reflect on development activities for process assessment.

Stimulating Primary Mathematics Group-Discussion


By: Dr. Marsigit, M.A.
Reviewed by: Lina Dwi Aris S (09301241031, http:linadwiarissetiani.blogspot.com)

Penelitian yang dilaksanakan pada Siswa kelas 6 SD di SD Gambiranom, Yogyakarta, Indonesia, menyelidiki kegiatan siswa dalam mengkonstruksi ciri-ciri dari sejumlah pola bilangan sebagai hasil dari penjumlahan dan pengurangan dua digit bilangan pada pembelajaran matematika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi peran guru dan kegiatan siswa dalam tiga siklus yang berbeda dari penelitian tindakan kelas. Biasanya siswa melakukan pengamatan ketika mereka berinteraksi dengan benda-benda atau orang disekelilingnya, kemungkinan hal tersebut dapat dijadikan sebagai titik awal untuk membahas tentang perkembangan mekanisme kognitif mereka. Dalam interaksi tersebut, siswa melihat objek, memegang dan mendengarkan suara ataupun berbicara dengan orang lain, selain itu, siswa juga dapat mengkategorikan, menghafal atau bahkan menyusun rencana untuk aktivitas tertentu.

Pada penelitian ini, peneliti telah mengembangkan tiga siklus penelitian tindakan kelas (CAR) dari skema pengajaran yang berbeda-beda yang merupakan bagian dari praktik umum dalam pengaturan pendidikan. Proses penelitian tindakan kelas meliputi analisis masalah dan rencana strategis, pelakanaan rencana strategis, observasi dan evaluasi tindakan kelas menggunakan teknik dan metode yang tepat, refleksi atas hasil evaluasi dan pada seluruh tindakan dan proses penelitian (Zuber dan Skerritt, 1992). Penelitian ini mencakup beberapa tindakan, sebagai berikut (Zuber dan Skerrit, 1992): 1. Mengidentifikasi an menganalisis masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar matematika. 2. Merancang strategi untuk memecahkan masalah sebagai hasil simetris komunikasi antara peneliti an guru. 3. Menerapkan dan menguji strategi. 4. Mengevaluasi efektivitas strategi. 5. Mencerminkan hasil. 6. Pengambilan  kesimpulan pada masalah yang baru di identifikasi. 7. Mengulangi siklus hingga mereka memperoleh perbaikan dengan praktek. 8. Melaporkan temuan. Pada penelitian ini, guru dan peneliti bersepakat untuk mengusulkan dan mempersiapkan serangkaian kegiatan dalam skema penelitian tindakan kelas.

Pada siklus pertama, guru mengarahkan siswa untuk memiliki beberapa kompetensi untuk menggolongkan beberapa pola bilangan sebagai hasil dari penjumlahan dua digit bilangan, yaitu:
21 + 21 = . . .
14 + 41 = . . .
36 + 63 = . . ., dan sebagainnya.

Skema dari proses belajar mengajar pada siklus digolongkan, sebagai berikut: pertama, guru memperkenalkan pelajaran, guru menyampaikan berbagai informasi, mengajukan masalah dan menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh siswa dalam kegiatan yang diikutinya. Kedua, guru memberikan perintah pada siswa untuk menjumlahkan bilangan yang terdiri dari dua digit, guru membiarkan siswa untuk bekerja dalam kelompok diskusi. Dimana, kelompok diskusi tersebut terdiri dari empat siswa. Ketiga, guru mempersilahkan siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka yang dilanjutkan dengan pengambilan kesimpulan dari hasil diskusi dan percobaan. Dalam siklus ini guru mengembangkan lembar kerja siswa dan mendistribusikan lembar kerja siswa tersebut sebelum siswa bekerja dalam kelompok diskusi mereka. Selanjutnya dilakukan siklus kedua, pada siklus kedua ini siswa diperintah oleh guru untuk menemukan hasil pengurangan dari dua digit bilangan. Langkah-langkah yang digunakan oleh guru pada siklus kedua ini sama seperti langkah-langkah yang tertera pada siklus pertama.    

The Effort to Increase the Student’s Motivation in Mathematics Learning with Some Teaching Aids in Junior High School 5 Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia


By: Dr. Marsigit, M.A.
Reviewed by: Lina Dwi Aris S (09301241031, http://linadwiarissetiani.blogspot.com/)

Salah satu upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika di Sekolah Menengah Pertama adalah dengan membuat proses belajar mengajar matematika menjadi lebih menyenangkan dan terikat dalam kehidupasn sehari-hari. Penelitian yang dilakukan di SMP 5 Wates, Kulon Progo Yogyakarta, Indonesia pada tahun akademik 2001/2002 adalah untuk  memilih dan menggunakan beberapa alat bantu pembelajaran yang dapat digunakan sebagai model pembelajaran matematika untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam belajar matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian menggunakan sejumlah alat bantu mengajar seperti papan yang dipaku,  tangan karet, kartu bermain, dan sebagainya yang digunakan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran matematika dapat memberikan dampak posistif yakni siswa menjadi lebih aktif dalam proses belajar matematika. Hal tersebut terlihat pada sesi menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru terkait dengan materi yang diberikan. Sehubungan dengan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan para guru matematika untuk menggunakan berbagai variasi metode belajar dalam proses belajar mengajar matematika di SMP dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam belajar matematika.

Keberhasilan proses pembelajaran matematika tidak jauh dari peran guru sebagai informator, komunikator, dan fasilitator. Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru bisa melalui intervensi melalui interaksi antara guru dan siswa terkait dengan prestasi belajar siswa. Sikap siswa di pengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Rata-rata siswa SMP berada pada usia diantara 12-15 tahun. Berdasarkan perkembangan kognitif dari teori belajar Peaget, usia ini memiliki operasi formal. Akuisisi pada tingkat ini muncul dari ide-ide untuk membandingkan, mendiskusikan dan membuat kesimpulan. Dalam hal ini, ada perubahan ke fungsi intelektual dari pemikiran kokret ke abstrak (Suardiman, 1986:36). Penggunaan alat bantu dalam mengajar dapat membantu proses abstraksi siswa. Sehubungan dengan hasil penelitian, peneliti menyarankan para guru matematika di SMP dalam proses belajar mengajar matematika untuk menggunakan metode yang bervariasi untuk memotivasi belajar siswa dan untuk menghilangkan rasa bosan siswa saat belajar matematika dengan menggunakan bantuan demonstrasi secara optimal untuk menjelaskan konsep, ide, definisi atau prosedur tertentu.

Kamis, 22 September 2011

Developing Teacher Training Textbooks for Lesson Study in Indonesia


By: Dr. Marsigit, M.A.
Reviewed by: Lina Dwi Aris S (09301241031, http://linadwiarissetiani.blogspot.com/)
Dalam dekade terakhir, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah antara lain denagn menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan Internasional, melakukan berbagai inovasi dalam program-program pendidikan, serta meninjau ulang peraturan-peraturan yang mengatur pendidikan di Indonesia. Dalam kegiatan belajar mengajar guru merupakan pilar utama dalam pendidikan. Selain guru faktor penting dalam menunjang suksesnya kegiatan pembelajaran di sekolah adalah penggunaan buku pelajaran yang dapat dijadikan referensi bagi siswa dalam proses belajar.
Guna meningkatkan kemampuan siswa SMP dalam berfikir secara matematis, guru perlu mengembangkan buku pelajaran matematika yang memenuhi aspek teoritis dan praktis dari praktek pembelajaran matematika. Dalam kegiatan Lesson Study dikatakan bahwa kriteria buku pelajaran matematika yang baik untuk siswa SMP, yaitu buku tersebut harus mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa, bermakna, serta dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dalam pelaksanaan kegiatan Lesson Study diungkapkan berbagai kendala yang dialami oleh guru dalam upaya mengembangkan buku pelajaran matematika untuk siswa SMP, yaitu: kurangnya keterampilan dan pengetahuan dalam menulis buku teks matematika, kesulitan dalam mengelola dan mengalokasikan waktu, sulitnya menemukan tema buku, kesulitan dalam mengumpulkan data pendukung, dan seterusnya. Untuk mengembangkan buku pelajaran matematika untuk siswa SMP guru perlu memiliki gambaran yang  jelas bagaimana merencanakan dan melaksanakan kegiatan di dalam kelas, meliputi: kegiatan pemecahan masalah, penalaran dan bukti, komunikasi matematika, hubungan matematika, gambaran mengenai matematika, peran teknologi dan ICT, merancang isi dan mengembangkan keterampilan, kesesuaian dan ketepatan isi, besarnya minat dan kemampuan siswa, serta materi yang mudah untuk diikuti dan dipahami.